Pembelokan Fiksi Sejarah (Sebuah Tinjauan Singkat Data dan Fakta dalam Beberapa Film Sejarah)
Menyambung dengan tulisan tentang film Balibo beberapa waktu yang lalu, tulisan kali ini akan membahas beberapa film sejarah yang melenceng dari kenyataan. Kembali pembahasan akan lebih condong pada film-film Hollywood.
Dalam hal ini saya bukan tidak mau mengedepankan film Indonesia, tapi rasanya film-film sejarah buatan Indonesia memiliki beberapa penyakit umum yang membuat pembahasan agak kurang variatif, antara lain : kebanyakan film sejarah yang kita tampilkan adalah sejarah yang tiap hari bisa dibaca di buku Sejarah anak SD, itu berarti konflik dan pemecahan yang disajikan selalu sama. Sekalipun film-film tersebut dibungkus dengan kisah cinta (Janur Kuning – Alam Surawidjaja, 1979), komedi (Naga Bonar – MT Risyaf, 1986), atau silat (Si Ronda Macan Betawi - Fritz G Schadt, 1978) atau yang terbaru yaitu Merah Putih (Yadi Sugandi, 2009) pada intinya tetap sama, Belanda atau Jepang adalah penjahat dan harus ditumpas.
Maka, seberapa berani kita membuat film yang membelokkan sejarah? Rasanya di Indonesia sendiri baru Pengkhianatan G 30 S PKI (Arifin C Noer, 1982) yang seperti itu, pun film tersebut rasanya membelok karena tuntutan pemerintah dan bukan inisiatif filmmaker-nya.
Bolehkah Membelokkan Sejarah?
Mungkin itu pertanyaannya, jawabannya bisa ya bisa juga tidak. Tapi, bila kita bicara tentang fiksi (dalam hal ini berarti film cerita), maka cukup banyak film yang menceritakan—atau hanya sekedar berlatar belakang—sejarah. Dan untuk film luar negeri (baca : Hollywood) pembelokan sejarah untuk mengejar dramatisasi film itu sudah biasa.
Sebelum melanjutkan pembahasan, kita akan melihat dulu beberapa film Hollywood di bawah ini, dan permainan fakta yang mereka lakukan :
10,000 B.C. (Roland Emmerich,. 2008)
Sutradara Roland Emmerich sepertinya suka sekali dengan sesuatu yang dilebih-lebihkan (misal: mengirimkan virus komputer lewat Macintosh untuk membunuh alien di Independence Day). Penyakit ini keluar lagi di 10.000 BC. Penonton dipaksa menerima kenyataan bahwa hewan yang bernama mammoth digunakan untuk membuat piramida, padahal menurut penelitian, masa hidup mammoth dengan masa dibangunnya piramida itu berbeda sangat jauh.
Fakta lainnya? Mammoth tidak hidup di gurun pasir seperti yang tergambar di film. Mammoth hidup di daerah dingin, sebab kalau dia hidup di padang pasir maka rambut tebal yang dia punya jelas tidak akan ada gunanya
300 (Zack Snyder, 2007)
Film ini mengambil latar berdasarkan kejadian nyata yaitu Battle of Thermopylae, tapi mungkin karena terlalu kreatif maka film ini kebablasan dalam berkreasi dengan style-nya. Yang paling terlihat adalah tokoh Xerxes si Raja Persia, data menyebutkan bahwa dia tidak setinggi 8 kaki.
Lalu, para konsul di Sparta pun hanya boleh diikuti oleh orang yang berusia 60 tahun lebih. Artinya, tidak ada satupun tokoh seperti Theron (Dominic West) yang masih berusia 37 tahun. Satu lagi, para pejuang Sparta pergi ke medan perang dengan menggunakan baju besi, bukan hanya celana dalam seksi dari kulit.
The Last Samurai (Edward Zwick, 2003)
Faktanya, orang Jepang di akhir abad 19 tidak menggunakan tenaga dari luar negeri untuk memodernisasikan militer mereka. Kalaupun iya, kebanyakan adalah orang Perancis, bukan Amerika.
Lalu karakter Ken Watanabe itu diambil dari orang bernama Saigo Takamori yang mati karena melakukan bunuh diri, atau “seppuku,” karena menderita kekalahan dan bukannya mati karena dibredel peluru.
Braveheart (Mel Gibson, 1995)
Faktanya, kilt—semacam rok tradisional Skotlandia—belum digunakan sampai kira-kira 300 tahun setelah jaman William Wallace. Jadi, kalau di film dia menggunakan kilt jelas jadi aneh.
Lalu kalau di film, Wallace diceritakan berselingkuh dengan Isabella dari Perancis dan dari hubungan gelap itu lahir lah Edward II. Tapi berdasarkan data sejarah, ketika perang Falkirk terjadi Isabella baru berumur 3 tahun (artinya tidak terjadi perselingkuhan) dan Edward II lahir 7 tahun setelah kematian Wallace.
Fiksi & Belokan Sejarah
Dari contoh-contoh film di atas, ternyata memang belokan sejarah dalam sebuah film sangat membantu proses dramatisasinya. Dan sebenarnya dalam dunia fiksi, apapun boleh terjadi. Kalaupun terjadi protes dari kiri kanan maka pembuat cerita masih bisa berkelit dengan mengatakan “Ini kan fiksi” atau bila meminjam kalimat Stephen King “Apakah ini ilmu roket?” maksudnya, jangan terlalu cerewet dengan fakta-fakta dalam karya fiksi sebab fiksi memberikan kebebasan berkreasi.
Nyatanya pula, film-film yang disebut tadi (dan banyak film dengan kasus sejenis) mampu meraih berbagai penghargaan. Misalnya Braveheart, dia mampu meraih 5 piala Oscar dan 5 nominasi piala Oscar tahun 1996, 3 nominasi Saturn Award 1996, menang 3 kategori di BAFTA Award, dan banyak penghargaan lain.
The Last Samurai meraih 4 piala Oscar, belum termasuk 15 piala di ajang lain dan sekitar 39 kali dinominasikan di berbagai ajang festival film. Lalu, 300 meraih 9 piala dan 27 kali nominasi di ajang yang berbeda-beda.
Oke, meraih pujian untuk karya kita memang akan sangat membanggakan. Tapi, ada satu hal yang perlu diingat. Modifikasi sejarah yang bersumber pada keinginan membangun emosi dan dramatisasi, akan sangat berbeda dengan pembelokan sejarah untuk tujuan politis.
Inilah yang harus diwaspadai oleh penonton, ketika misalnya kita melihat film yang menyajikan perang Amerika – Vietnam, Amerika – Inggris, atau kasus-kasus “penting” di Indonesia seperti G 30 S PKI, Serangan Umum 1 Maret, Supersemar 11 Maret, Tragedi Tanjung Priok, dan banyak lagi. Kita sebagai penonton harus memiliki insting yang tajam tentang visi sang pembuat film ketika membuat sebuah pembelokan, dan selanjutnya penilaian kembali pada konsumen. Asal penonton jangan lupa bahwa dalam fiksi, sebuah fakta tidak perlu terlalu akurat. Dan sebaliknya bagi para pembuat film, jangan lupa kalau kecerdasan film orang Indonesia sudah sangat meningkat, dan mereka juga bisa menjadi sangat kritis.
No Related Posts


Have your say!