Home » Headline, Review

Balibo, Ketika Indonesia Jadi Semakin Hitam

By Hendra Veejay On 3 Jan 2010 With No Comment

O'HARA.BALIBO-1

Ketika saya menonton film Balibo—dan pendapat ini berlanjut hingga saya selesai menonton—saya merasa seperti sedang menonton film-film tentang Afrika yang bercerita tentang apartheid. Misalnya “Catch a Fire” (Philip Noyce, 2007), “A World Apart” (Chris Menges, 1988), atau “Forgiveness” (Ian Gabriel, 2004). Perasaan ini semata-mata didapat ketika melihat setting dan musik yang dipilih. Tidak heran, karena dari sisi musiknya film ini mendapat Best Feature Film Score dalam APRA Screen Music Awards 2009, Best Original Soundtrack/Cast/Show/Album dalam Aria Awards 2009, dan ini belum termasuk nominasi Best Original Music Score pada gelaran AFI Awards 2009. Tapi saya tidak akan membahas soal musik, saya akan membahas tentang ceritanya. Bagi yang belum menonton film ini, saya akan beri sinopsis ceritanya.

Balibo adalah sebuah thriller politik yang diangkat dari kisah nyata terbunuhnya lima wartawan TV Australia pada Oktober 1975. Mereka adalah Greg Shackleton, Tony Stewart, Gary Cunningham (Channel 7), lalu Brian Peters dan Malcolm Rennie (Channel 9). Mereka hilang saat meliput peristiwa invasi Indonesia di desa Balibo, yang terletak di perbatasan Indonesia dengan Timor Timur.

Sudah? Itu saja kan? Memang secara cerita, itulah yang disajikan oleh Balibo. Tapi ada beberapa hal yang menarik untuk dibahas, terutama dari sudut pandang kita sebagai orang Indonesia. Beberapa hal itu antara lain :


Kejujuran Sejarah

Tadi sudah saya sebutkan bahwa menonton Balibo, saya terpengaruh oleh musiknya yang kental dengan suasana Timor-Timur hingga saya merasa yakin bahwa settingnya memang ada di negara itu. Akibatnya ketika setting dalam sebuah film itu terasa nyata, ceritanya pun terasa nyata, dan ketika sebuah film—terutama film sejarah—terasa nyata, maka orang pun akan cenderung percaya pada sejarah itu.

victim

Pertanyaannya tinggal satu, betulkah sejarah yang diangkat oleh Balibo? Faktanya film ini dibuat dari hasil wawancara sebanyak 7824 orang saksi mata yang disampaikan pada Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Leste. Pun dengan saksi mata sebanyak itu, konflik ini masih menyisakan dua pilihan, menurut pihak Australia kelima wartawan itu dibunuh oleh militer Indonesia. Sementara menurut pihak Indonesia kelima wartawan itu tanpa sengaja terjebak di dalam baku tembak.

Ternyata “mungkin” karena film ini dibuat oleh orang Australia maka mereka lebih suka pada jawaban yang pertama. Kelima wartawan itu digambarkan sengaja dibunuh oleh militer Indonesia.

Akibatnya ketika selesai menonton saya bertanya-tanya, apakah sejarah yang ada dalam BALIBO itu jujur? Tapi lama kelamaan saya berpikir. Sebuah film boleh saja memihak satu sisi. Sedangkan untuk urusan sains yang merupakan ilmu pasti saja, hasil sebuah penelitian sangat bergantung pada “budaya” yang dianut penelitinya. Apa lagi film yang jelas-jelas karya kreatif, tentu keberpihakan menjadi hal yang sah-sah saja dilakukan.

Dan berikutnya, saya juga curiga bahwa fakta sejarah yang ada dalam film ini sebenarnya akurat. Terutama karena adanya pelarangan demi pelarangan dari pemerintah Indonesia. Dari situ kita bisa bertanya “Apakah ada yang disembunyikan oleh pemerintah kita?” Sebab kalau tidak ada masalah, maka lebih baik adem ayem saja, betul kan?

Jadi tentang kejujuran sejarah Balibo, saya memakai logika sederhana : tanpa bermaksud melecehkan para korban saya cuma ingin mengatakan bahwa secara politik (dan bahkan secara sejarah pun) peristiwa Balibo sebenarnya adalah peristiwa “kecil” untuk Indonesia. Maka kalau untuk hal kecil saja pemerintah ingin menyembunyikannya, apakah bukan berarti mereka menyembunyikan hal yang lebih besar juga?

Indonesia Belum Biasa Dituding, Apakah Ini Karma?

Meminjam kalimat Ifan Adriansyah Ismail dari rumahfilm.org, saya sangat setuju dengan pernyatannya yang mengatakan : “…orang Indonesia dipaksa mencicipi bagaimana rasanya jadi obyek tudingan; jadi korban sebuah peruntuhan nama baik di ranah budaya pop. Di Hollywood kita tahu, orang Rusia, Jerman dan Arab pasti sudah kenyang sekali jadi sasaran…”

Memang selama ini (secara film) Indonesia secara umum selalu merasa diri “baik-baik saja”, seolah Indonesia negara yang tidak pernah berbuat seperti teroris-teroris Korea, Arab, Rusia, Afganistan, dll. Menurut saya, film Balibo seolah-olah mengembalikan kita ke dunia nyata dengan pesan tersembunyi yang berkata “Hai Indonesia, kalian juga pernah kok menjadi penjahat, ini buktinya!”

Saya malah berharap ada orang yang mau membuat film tentang kasus 12 Dili 1991, kasus Tanjung Priok, Waduk Kedungombo, atau kasus GAM di Aceh. Sebab lewat film-film itu mungkin masyarakat Indonesia akan “lebih terbiasa” melihat negara menjadi penjahat bagi rakyatnya sendiri, mirip seperti film-film Afrika Selatan yang mengangkat isu apartheid, atau film Hollywood yang mengangkat isu ras.

Pesan moralnya : isu-isu lama tidak boleh dilupakan, malah harus dijadikan pelajaran untuk mengingat betapa bobroknya sejarah kita dulu.

Walaupun sebenarnya, saya merasa ini adalah karma. Kita terlalu sering memojokkan Belanda dan Jepang sebagai penjajah kejam. Padahal secara etika, film yang menjadikan negara lain jadi “hitam” (dan negara kita jadi putih) hanya pantas dilakukan pada era perang, tepatnya demi memompa semangat perlawanan. Maka bisa kita lihat, beberapa film Hollywood yang rilis sekitar perang dunia kedua selalu menggambarkan penjahatnya adalah Jerman dan Jepang, sementara yang rilis di sekitar perang dingin selalu dengan tokoh penjahat dari Rusia, sebaliknya ketika Rusia sudah “bubar”, penjahatnya berpindah ke Korea atau Cina. Lalu sekarang, di tengah isu agama yang memanas, Afghanistan atau Timur Tengah secara umum jadi sasaran. Dan bila film seperti ini dibuat dalam masa damai biasanya karena ada kondisi politik atau budaya yang “memaksanya”.

Indonesia dalam Balibo : Penjahat yang Sempurna

Untuk kasus-kasus seperti itu Ifan Adriansyah mengambil contoh dua film, yaitu “The Patriot” (Rolland Emmerich, 2000) dan “Merah Putih” (Yadi Sugandi, 2009). Dalam tulisannya dia membahas bahwa “The Patriot” bisa menjadi semacam kitab suci bagi agenda politik sayap kanan AS yang ultranasionalis, sementara “Merah Putih” dibuat ketika terjadi penipisan nasionalisme di masyarakat kita.

Problemnya : mengisi kekosongan nasionalisme dengan film seperti itu membuat si pembuat film harus membuat sebuah musuh yang bisa dibenci bersama.r277500_1174165

Akhirnya dalam “The Patriot”, Inggris digambarkan sebegitu kejam, sampai melakukan kejahatan perang yang tidak pernah ada catatannya dalam sejarah revolusi Amerika: membantai seisi desa dengan mengurung dan membakar mereka di gereja. Dalam “Merah Putih”, seperti yang diamati Eric Sasono, terjadi pengerasan persepsi atas Belanda. Jika dalam tren film-film perjuangan sebelumnya Belanda digambarkan sebatas kejam terhadap para “ekstrimis”, di film Merah Putih Belanda bahkan tidak segan melakukan genosida nyaris tanpa alasan.

Dalam Balibo juga terjadi hal yang sama, Indonesia digambarkan sebagi penjahat perang yang tidak berperikemanusiaan, bahkan sebenarnya jahat dengan sangat sempurna. Kenapa sempurna? Kembali menurut Ifan Adriansyah dalam film tersebut orang Indonesia dilucuti sama sekali elemen kemanusiaannya.

Kesempurnaan Pertama : Nama

Berbeda dengan “The Patriot” dimana si orang Inggris sebagai tokoh penjahat masih digambarkan punya nama yaitu Kolonel Tavington, dalam “Balibo” tidak satupun tokoh penjahat (baca : Indonesia) yang punya nama.

Padahal secara visual saja ada tiga tokoh yang muncul secara tiba-tiba dan juga tiba-tiba menonjol yaitu : perwira bersyal panjang dan bertopi koboi, yang menembak seorang wartawan dari jarak dekat,  lalu tokoh yang mengenakan topi menusuk dua orang wartawan, dan terakhir dalam adegan penyerbuan Dili ada seorang tokoh berkemeja safari putih berjalan petentang-petenteng sembari dikawal, membawa pistol lalu dengan pistol itu, dia mengeksekusi para tawanan sipil.

Siapa mereka? Penonton tidak akan tahu. Meski memang  Konsultan sejarah film ini, Dr. Clinton Fernandes dari University of New South Wales menegaskan bahwa setidaknya ada tiga tokoh yang dimunculkan dalam film ini, yaitu Kolonel Dading Kalbuadi, Muhammad Yunus Yosfiah, dan Benny Moerdani. Tapi secara visual itu tidak terjelaskan. Saya suka cara Ifan mengilustrasikan ini :

…tokoh-tokoh itu menjadi tak bernama. Karakter mereka direduksi menjadi alpha-male bengis yang memegang kendali atas segerombolan pasukan biadab.

Bukankah itu sangat mewakili?

Kesempurnaan Kedua : Bahasa

Kasus hampir mirip terjadi pada film “Black Hawk Down” (Ridley Scott, 2001). Orang Somalia yang jadi penjahat di film itu memang digambarkan sebagai “gerombolan liar” ternyata masih punya dialog dalam tokoh komandan perang Mohammad Farah Aideed. Lalu dalam “300” (Zack Snyder, 2007) gerombolan barbar Persia juga masih punya dialog dalam tokoh Xerxes dan beberapa panglimanya. Termasuk film Merah Putih, orang-orang Belanda masih punya dialog dalam tokoh perwira belanda yang diperangkan Rudy Wowor (meski juga tidak punya nama).

Tapi dalam Balibo itu tidak ada. Berikut ini catatan dari rumahfilm.org yang sangat menggambarkan situasi itu :

… tidak ada sebaris pun dialog yang dimaksudkan untuk dimengerti. Bahkan dialog yang diberi teks pun tidak. Salah satu adegan yang menyolok soal ini adalah ketika empat dari lima wartawan itu telah terbunuh. Dalam reka adegan ini Tony Stewart …terpojok di sebuah ruangan terkunci… Di luar, pasukan Indonesia yang mengepung saling bercanda dengan sesamanya… saya tidak mendengar dialog yang bisa dimengerti…hanya terdengar gumaman dan tawa yang tidak jelas.

Mendadak saya teringat pada penggambaran film-film klasik terhadap suku primitif kanibal …teriakan macam “hula, hula!” dan tawa melecehkan sudah cukup untuk menggambarkan, makhluk seperti apa mereka. Memang sesekali terdengar beberapa kosakata yang familiar, di antaranya “keluar, cepat!”, “tembak, tembak saja”, dan “bunuh dia!”. Tapi yang penting adalah fakta bahwa teriakan-teriakan itu tidak mencederai narasi film jika tidak dimengerti…

Jadi setelah penamaan dihilangkan, bahasa juga dihilangkan. Itu menjadikan sosok Indonesia menjadi sempurna sebagai penjahat yang tidak perlu dikenal dan tidak perlu dimengerti, artinya hanya harus ditumpas saja! Mungkin dalam posisi ini orang Indonesia disejajarkan dengan makhluk-makhluk Orcs dalam Trilogy “Lord of The Ring” (Peter Jackson, 2001, 2002, 2003) yang hanya tahu menggeram dan membunuh.

Akhirnya Balibo, Semoga Berlanjut

Dengan konsep cerita seperti ini jelas Indonesia dianggap tidak penting untuk dilihat sudut pandangnya, maka penutup ini singkat saja. Menurut saya Balibo termasuk film yang lumayan. Skala 1-10 : sekitar 6.

Kalaupun ada ketidakpuasan dari kiri kanan rasanya wajar-wajar saja karena dalam karya kita tidak mungkin membuat semua penonton puas. Tapi yang jadi aneh kalau film-film seperti ini jusru membuat timbulnya “kebiasaan lama” seperti pelarangan, atau penolakan sensor.

Padahal kasus yang sama juga dialami film “District 9” (Neill Blomkamp, 2009) dimana pemerintah Nigeria juga melarang pemutarannya. Sebenarnya orang yang “agak cerdas” bisa menangkap bahwa tidak semua orang Nigeria itu penjahat, tidak semua orang Italia itu mafioso, atau tidak semua orang Arab itu teroris. Begitupun sejelek apapun Indonesia dalam Balibo saya yakin dunia Internasional tetap menganggap kalau tidak semua orang Indonesia itu tukang bunuh orang.

Sekarang tinggal kita menyikapinya secara dewasa dan menikmati Balibo sebagai film saja. Atau kalau tidak, kenapa tidak buat film tandingannya saja? Setidaknya buat film Balibo versi Indonesia?

2 people Like this post.

No Related Posts

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.