Home » Headline, Review

Sang Pemimpi: Film yang Memberi Inspirasi

By Ricky Utama Kurnia On 26 Dec 2009 With No Comment

Jenis Film : Drama; Produser: Mira Lesmana; Produksi: Miles Film & Mizan Productions; Durasi: 128;
Pemain        : Lukman Sardi, Mathias Muchus, Nugie, Landung Simatupang, Rieke Dyah Pitaloka,Yayu Unru, Vikri Septiawan, Rendy Ahmad, Azwir Fitrianto, Jay Wijayanto, Nazril Irham; Sutradara: Riri Riza; Penulis: Salman Aristo, Mira Lesmana, Riri Riza

sp1Apa yang biasa Anda rasakan setelah menonton sebuah film? Mungkin ada yang berpendapat merasa biasa saja, atau dirinya merasa terhibur, atau bahkan mendapat inspirasi dan menjadi bersemangat kembali. Hal inilah yang sebenarnya menjadi kekuatan dari sebuah film. Film yang dikemas dengan baik bisa menghipnotis para penontonnya. Para penonton seakan-akan bisa merasakan dengan sangat dekat apa yang si pemeran di film itu rasakan, bahkan seakan-akan penonton juga ikut menjadi bagian dari situasi di film tersebut. Selanjutnya tergantung dan terserah sang pembuat film, mau diarahkan kemana para penonton yang sudah terhipnotis tersebut. Apakah akan dihipnotos sehingga menjadi lebih baik atau malah akan memberi efek yang buruk terhadap mereka.

Film yang memberi inspirasi. Efek seperti itulah yang seharusnya ditimbulkan dari sebuah film. Dan sekarang ini tampaknya sudah lumayan banyak film Indonesia yang juga mampu memberi inspirasi. Sebagai contoh sebut saja Garuda di Dadaku, Meraih Mimpi, Ketika Cinta Bertasbih dan lainnya. Salah satu yang masih cukup hangat diperbincangkan sekarang adalah film Sang Pemimpi. Film kedua yang diangkat dari tetralogi buku laskar pelangi ini bisa dibilang memberi inspirasi dengan memberi kepecayaan kepada para penontonnya untuk bermimpi setinggi-tingginya dan berjuang meraih mimpi tersebut.

Dari segi teknis, film yang menghabiskan dana sekitar 12 Miliar untuk pembuatannya ini tak perlu banyak dibahas lagi. Duet maut Mira Lesmana dan Riri Riza kembali bisa menampilkan sebuah film yang dikemas dengan baik dan rapih. Setting tahun 1980an ditampilkan dengan sangat nyata. Kehidupan sosial masyarakat pinggiran di daerah Belitung dapat dilihat dengan jelas. Pemilihan properti untuk membangun setting itu sangat detail. Bisa diperhatikan uang, pakaian, kendaraan bahkan lagu-lagu yang diperdengarkan dalam film ini sangat sesuai seperti pada tahun 1980an. Suasana melayu yang kental dan tak lupa, keindahan alam Belitung pun ikut dieksploitasi di film ini. Hal ini menambah keindahan film. Beberapa visual efek pun ikut ditampilkan dengan rapih.sang-pemimpin01

Nilai plus lain adalah film ini menampilkan lumayan banyak pemain baru, dan menurut saya para pemain itu berakting dengan cukup baik. Pemeran Ikal, Arai dan Jimron remaja adalah para pendatang baru. Mereka adalah para pemuda asli Belitung yaitu Vikri Septiawan, Ahmad Syaifullah dan Azwir Fitrianto. Sebagai pendatang baru, bisa dikatakan mereka berakting dengan sangat baik. Dan mungkin karena memang asli dari Belitung mereka pun sangat menjiwai peran mereka sebagai remaja asal Belitung.

Ada juga pemain yang sudah cukup dikenal publik, seperti Nugie. Nugie yang biasa dikenal sebagai seorang musisi bermain sebagai Pak Balia, seorang guru muda yang inspiratif dan penuh semangat. Seorang Nugie berkarakter seperti itu menurut saya sangat mudah diterima, karena saya mengenal perwatakan Nugie sehari-hari juga begitu, seorang musisi yang selalu bersemangat dan lagunya tak sedikit yang memberi inspirasi.

Selain Nugie, Nazril Irham pun ikut menjadi salah satu aktor dalam film ini. Nazril Irham alias Ariel memang biasa dikenal masyarakat sebagai seorang vocalis sebuah group band yang berpewatakan dingin. Tapi tangan dingin Riri Riza mampu menyulap pribadi Ariel menjadi karakter Arai Dewasa yang penuh ide dan mimpi, selalu bersemangat dan ceria. Dan menurut saya sulap itu cukup berhasil, walaupun memang durasi Ariel tampil di film ini belum cukup lama. Dan jangan dilupakan juga akting para aktor senior seperti Mathias Muchus. Menurut saya dia sangat menjiwai perannya sebagai seorang ayah nomor satu seluruh dunia.

Tapi, apakah karena durasi film ini yang cukup panjang atau mungkin hal yang lain, ditengah-tengah film saya sempat merasa film ini menjadi agak datar. Mungkin ditengah film ini alur berjalan cukup lambat dan belum menunjukan kejutan baru. Tapi saat kejutan-kejutan kembali dihadirkan saya kembali menikmati film ini. Terdapat juga humor-humor yang mengalir dan tidak dipaksakan yang ikut membumbui kenikmatan film ini. Memang secara umum suasana film ini terasa cukup mengalir. Lalu film ini pun ditambah dengan bumbu rasa haru dan kebahagiaan, yang juga memberikan inspirasi bagi para penontonnya.

Efek yang Ditimbulkan oleh Film bagi Masyarakat dan Pertanggung Jawabannya

sang pemimpi1

Sebagai salah satu media penghibur sebenarnya film sudah cukup dengan menghasilkan efek menghibur untuk para penontonnya. Menjadi fresh kembali setelah menonton sebuah film juga merupakan efek yang baik dari sebuah film. Ya, setidaknya dengan menyaksikan film itu penontonnya bisa menghilangkan kejenuhannya dan bisa beraktivitas dengan segar kembali. Menghibur disini bukan selalu berarti film tersebut harus ceria atau lucu dan hal yang berkonotasi menyebabkan kesenangan lainnya. Apapun genre filmnya, horror atau triller sekalipun, apabila dikemas secara baik akan mampu menghibur para penontonnya. Dan permasalahan genre apa yang dipilih untuk menjadi hiburan tergantung dari pribadi penonton sebagai penikmat film.

Tapi banyak juga para pembuat film yang menganggap film yang menghibur itu cukup dibuat dengan asal, tapi dibumbui dengan hal yang menarik perhatian, walau hal itu membodohi. Mereka memaksakan menghipnotis penontonnya dengan menyajikan film yang mengandung hal ‘menarik’ tapi tidak mendidik, dan cenderung justru membodohi, tapi menguntungkan bagi pembuat film yang hanya mencari keuntungan. Seharusnya di titik ini diingat kembali tentang tanggung jawab dari sebuah karya. Karya yang ditunjukan untuk umum dan berdampak bagi kehidupan orang banyak, diantaranya film, juga memiliki tanggung jawab yang besar. Kebaikan atau malah hal buruk yang ditimbulkan dari efek film tersebut juga merupakan tanggung jawab sang pembuat film.

Patut disyukuri bahwa masih ada para pembuat film yang tidak hanya memikirkan keuntungan tapi juga memikirkan manfaat karya-karya mereka bagi masyarakat, dan karya-karya mereka tidak sedikit yang mulai ditayangkan dan bisa dinikmati masyarakat umum. Semoga film-film yang bermanfaat dan memberi inspirasi seperti ini terus banyak diproduksi dan memberikan efek yang baik bagi masyarakat Indonesia. 

Film yang memberi inspirasi juga tidak harus selalu yang bercerita tentang kisah inspiratif seseorang. Film-film yang mengangkat kisah biasa juga harusnya tetap mengandung nilai dan ilmu yang baik, jadi menonton film bukan hanya menjadi pekerjaan yang menghibur, tapi juga menambah ilmu dan inspirasi. Apabila tontonan sudah baik tentunya sangat mendukung untuk kebaikan kehidupan. Maju terus perfilman Indonesia! Berikan tontonan yang baik kepada Indonesia!

No Related Posts

Have your say!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.