Adegan ‘Standar’ dalam Film
Setiap kali menyaksikan sebuah film, pernahkah anda memperhatikan adanya beberapa adegan yang menguntungkan sang tokoh utama? Seperti saat terjadi sebuah ledakan, maka sang tokoh utama justru jatuh didaerah berumput dan jauh dari puing-puing ledakan? Atau saat terjadi pembajakan pesawat, maka secara kebetulan seorang mantan militer/polisi berada dalam pesawat dan menggagalkan rencana pembajakan? Ya, adegan ‘standar’ perfilman seperti itu yang saking seringnya ditemui, akhirnya menjadi hal umum yang diterima penonton, walaupun pada kejadian nyata belum tentu begitu. Nah, kembali ke permasalahan adegan ‘standar’, berikut akan dibahas beberapa adegan ‘standar’ dalam film yang mungkin sudah bosan anda jumpai.
Pertama, adegan dimana sang tokoh utama sedang kejar-kejaran sambil mengendarai mobil, baik dikejar maupun mengejar sesuatu, dan dengan terpaksa (atau sengaja) membelokkan mobilnya melewati arus lalu lintas jalan searah. Maka, secara otomatis semua kendaraan di depan akan membanting setir hingga naik ke trotoar atau saling bertabrakan dengan kendaraan yang lain. luar biasa. Namun, adegan seperti ini masih jarang atau hampir tidak ada dalam film Indonesia. Mungkin karena tingkat kesulitan yang akan dihadapi dalam pembuatannya.
Kedua, masih berhubungan dengan mobil, dan merupakan salah satu adegan yang masih sering digunakan dalam film Indonesia. Yaitu, sang tokoh utama mengendarai mobil dengan kemudi yang tetap harus diputar ke kanan maupun ke kiri walau sedang berada di jalan yang lurus. Hal ini dilakukan untuk menekankan bahwa mobil benar-benar berjalan. Padahal di Hollywood sendiri, menurut Veejay, salah satu crew SalmanFilms, adegan ini digunakan pada film keluaran 80-an.
Ketiga, khusus untuk film horor, ada adegan dimana sang tokoh utama yang biasanya wanita, yang tinggal di rumah berhantu, berusaha menyelediki suara-suara aneh di malam hari sambil mengenakan pakaian tidur seminim mungkin. Adegan seperti ini semakin sering kita jumpai di film-film horor Indonesia. Apalagi saat ini bioskop Indonesia sedang dibanjiri film horor berbau seks.
Keempat, khusus untuk film olahraga dan umumnya basket. Adegan yang paling sering ditemui adalah angka penentu kemenangan hanya dapat dicetak di detik-detik terakhir pertandingan dengan dramatisasi adegan yang lambat (slow motion). Ditambah dengan wajah pemain yang di close up untuk menunjukkan ekspresi cemas dengan butir-butir keringat yang berjatuhan dari wajahnya. Hal ini tentunya akan semakin membangun suasana tegang yang ingin dicapai sang sutradara. Namun, untuk film dalam negeri sendiri, adegan ini masih jarang ditemui dan bahkan hampir tidak ada karena minimnya film bergenre olahraga.
Terakhir, jika anda ingin membuat film yang berhubungan dengan pembobolan komputer pemerintah, perusahaan besar, dan sebagainya. Maka tempatkanlah satu orang dengan peralatan canggih dan kemampuan IT luar biasa, dimana ia mampu meng-hack sistem komunikasi dengan teknologi secanggih apa pun bahkan sistem komunikasi secanggih alien sekalipun.
Kelima adegan yang telah disebutkan di atas hanyalah beberapa adegan ‘standar’ yang sering kita temui dalam film. Banyak sutradara masih terjebak dengan menggunakan beberapa adegan di atas dalam filmnya dan hal ini sah-sah saja dilakukan. Namun, jika sang sutradara cukup kreatif, paling tidak menurut saya, banyak variasi adegan lain yang bisa digunakan untuk menunjukkan dramatisasi cerita yang diinginkan.
referensi buku: Bertanya atau Mati karya Isman H. Suryaman
No Related Posts


Have your say!